Friday, October 13, 2017

MAKALAH MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM



BAB 1
PENDAHULUAN

               Dalam kehidupan berkeluarga, berorganisasi, bermasyarakat, dan bernegara, manajemen merupakan upaya yang sangat penting untuk mencapai tujuan bersama. Pendidikan yang salah satu faktor penting  dalam kehidupan manusia sudah semestinya mendapat perhatian penting dalam hal manajemennya. Menurut Syafi’i Ma’arif kegiatan pendidikan di bumi haruslah berorientasi kelangit, suatu orientasi transcendental, agar kegiatan itu punya makna spiritual yang mengatasi ruang dan waktu. Orientasi itu harus tercermin secara tajam dan jelas dalam rumusan filsafat pendidikan islam yang kita belum punya itu.[1] Pendidikan yang baik merupakan tolok ukur bagi sebuah bangsa atau Negara dalam hal kemajuan yang di capai tidak terkecuali dalam islam.

              Pendidikan dalam islam sudah semestinya dikelola dan di manaje dengan sebaik-baiknya. Manajemen pendidikan islam merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat dari keterbelakangan baik secara moral,materi dan spiritual. Dalam islam, manajemen adalah hal yang sangat penting. Hal ini tampak dalam ungkapan bijak’

“sesuatu yang haq yang tidak di organisir terkadang dikalahkan oleh sesuatu yang batilyang terorgansir”

             Maklah ini akan membahas tentang pemikiran filosofis tentang manajemen dalam pendidikan islam. Makalah ini ditulis sebagai pengantar diskusi dalam perkuliahan Pasca Sarjana Universitas Daru’ul ‘ulum Jombang.


BAB 11
PEMBAHASAN

A.Pengertian Manajemen dalam Pendidikan Islam

             Untuk memahami pengerian Manajemen dalam Penidikan Islam terdapat dua kata kunci, yaitu Manajemen dan Pendidikan Islam. Pengertian Managemen secara bahasa dapat di sama artikan dengan istilah pengelolaan  atau pengendalian. Sedangkan dalam kamus Bahasa Inggris managemen berarti dari bentuk verb “to Manage” yang bersinonim dengan kata “to hand” yang berarti “(mengurus)”, ”to control” (memeriksa), dan”to guide” (memimpin).
Dalam kamus Ilmiyahh popular, kata Manajemen mempunyai arti Pengelolaan usaha, kepengurusan, ketatalaksanaan, pengunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran yang diinginkan direksi[2].
Maka pengertian secara etimologi managemen adalah pengurusan, pengelolaan, pengendalian, memimpin, atau membimbing. (Muchtar Effendi, 1986, Hal: 09).

Dalam pengertian terminilogi, sebagaimana yang telah didefinisikan oleh beberapa ahli managemen antara lain:
Menurut Marry Parker Follet managemen adalah seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan  melalui orang lain. (Subagio Atmodiwirio, 2000, hal; 05). Senada dengan pendapat diatas George Terry yang di kutip oleh Moch. Sodiq menyatakan bahwa managemen adalah suatu tindakan, perbuatan seseorang yang berhak menyuruh orang lain mengerjakan sesuatu, sedang tanggung jawab tetap di tangan yang memerintah. (Moch. Shodiq, 2005, hal; 19). Pengertian yang lain bahwa Managemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. (Malayu SP. Hasibuan, 2001, hal: 02).

Sementara menurut John D. Mils yang dikutip oleh Imam Munawwir yaitu;

“Management is the proses of directing and facilitating the work of people organized in formal group to achive adsired goal” (Managemen adalah proses memimpin dan melancarkan pekerjaan dari orang-orang yang terorganisir secara formal sebagai kelompok untuk memperkuat tujuan yang di inginkan).
Pendapat lain oleh Ordway Tead managemen adalah;
“Management is the proses and agency with direct and guides tions of an organization in the realizing of establized aims (Managemen adalah proses dan perangkat yang mengarahkan serta membimbing kegiatan-kegiatan suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan). (EK. Imam Munawwir, Tth. Hal: 202).
 
Menurut Harold Koontz dan Cyril O’Donnell;

    Managemen adalah usaha untuk mencapai tujuan  tertentu melalui kegiatan orang lain. Di mana manager mengadakan koordinasi atas sejumlah aktifitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian,  penempatan, penggerakkan dan pengendalian. (Koontz Harold & Cryl O’Donnel, 1995, hal: 03.)

Sedangkan menurut Prof. Oey Liang Lee;
Managemen adalah sebagai seni perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengontrolan atas human and natural resources untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan lebih dahulu. (Malayu SP. Hasibuan, 1990, hal: 04-05).


Dari pengertian-pengertian di atas, terdapat kesamaan ungkapan bahwa fokus dalam managemen adalah mengarah pada manusia sebagai pelaku managemen, karena managemen lebih diartikan sebagai wewenang yang dimiliki oleh seorang manager (orang yang mengatur) dalam rangka menyuruh dan memerintahkan anak buahnya untuk melaksanakan suatu pekerjaan.
Dari ta’rif management diatas, dapat dirumuskan bahwa managemen adalah ilmu dan seni mengatur proses yang di miliki oleh manusia sebagai pelaku managemen dalam upaya untuk memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber daya yang lain dalam kegiatan-kegiatan yang di rancang dengan fungsi managemen yaitu planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pelaksanaan), Staffing, directing dan Controlling (pengawasan) yang dilakukan secara efektif dan efesien dengan melibatkan peran serta seluruh anggota secara aktif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Mulyasa menuntut dilaksanakannya ke empat fungsi pokok managemen diatas secara terpadu dan terintegrasi dalam pengelolaan bidang-bidang kegiatan managemen pendidikan. Sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan secara holistik. (Dr. E. Mulyasa, M.Pd, 2002, hal; 21). Termasuk menentukan efektifnya  kurikulum, berbagai peralatan belajar, waktu mengajar, dan proses pembelajaran, sehingga lembaga tanpa adanya penerapan managemen yang baik dan professional dapat di prediksi suatu lembaga akan jumud


Dilihat dari konsep dasar dan operasionalnya serta praktek penyelengaraannya, maka pendidikan islam pada dasarnya mengandung tiga pengertian, yaitu :
1.   Pendidikan Islam adalah pendidikan menurut islam, yakni pendidikan yang difahami dan dikembangkan dari ajaran dan nilai-nialai fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya, yaitu al-qur’an dan al-sunnah. Dalam pengertian pertama ini, pendidikan islam dapat berwujud pemikiran dan teori pendidikan yang mendasarkan diri atau dibangun dan dikembangkan dari sumber-sumber dasar tersebutatau bertolak dari spirit Islam
2.   Pendidikan Islam adalah pendidikan ke-islaman atau pendidikan agama islam, yakni upaya mendidikkan agamaislam atau ajaran dan nilai-nlainya, agar menjadi Way of Life (pandagan hidup) dan sikap hidup seseorang. Dalam pengertian yang kedua ini pendidikan Islam dapat berwujud : a. Segenap kegiatan yang dilaukan seseorang atau suatu lembaga untuk membantu seorang atau sekelompok peserta didik dalam menanmkan dan atau menumbuhkembangkan ajaran islam dan nilai-nilainya, b. segenap fenomena atau peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah tertanamnya dan atau tumbuhkembangnya ajaran islam dan nilai-nilainya  pada salah satu atau beberapa pihak
3.   Pendidikan islam adalah pendidikan dalam islam, atau proses dan praktek penyelengaraan pendidikan yang berlangsung dan berkembang dalam realitas sejarah umat islam.[3]

Manajemen pendidikan Islam menurut Sulistiyorini aalah Suatu proses penataan atau pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang melibatkan sumber daya manusia muslim dan manusia dalam mengembangkannya untuk mencapai tujuan pendidikan islam secara efektif dan efisien. Senada dengan pengertian diatas, Muhaimin mengatakan bahwa manajemen pendidikan islam adalah bagaimana mengunakan dan mengelola sumberdaya pendidikan islam secara efektif untuk mencapai tujuan pengembangan, kemajuaan, dan kualitas proses dan hasil pendidikan islam itu sendiri[4]

B. Dasar dan Tujuan Manajemen dalam Pendidikan Islam

Manajemen dalam perspektif Islam selalu menuju dan harus berlandaskan pada ajaran Islam yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebagaimana penjelasan Arsyad bahwa;
Manajemen merupakan suatu proses pengaturan, penyusunan, pengelolaan, dan penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran dengan niat ikhlas karena Allah semata. Seorang manajer dengan memiliki dan berbekal ikhlas menyusun dan menggerakkan sumber daya secara efektif dan efesien untuk meraih sasaran yang hendak dicapai oleh suatu kelompok ataupun sebuah organisasi dengan tujuan akhir untuk memperoleh keridhaan Allah SWT. Karena setiap manajer harus sadar bahwa yang merupakan manajer tertinggi adalah Allah yang pengelolahnya meliputi bukan hanya manusia saja, melainkan seluruh makhluk termasuk para malaikat-malaikat-Nya. (Arsyad Azhar, 2002).

Pada prinsipnya, setiap makhluk manusia merupakan seorang manajer. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 30 yang berbunyi :
واذ قال ربك للملا ئكة ا نى جاعل فى الا رض خا ليفة.
Terjemahannya : Dan ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat bahwa  “Sesungguhnya Aku (Allah) akan menciptakan seorang khalifah di muka bumi” ..........(Q.S. al-baqarah-30).

Berdasarkan ayat diatas, jelas bahwa setiap orang dalam suatu institusi atau organisasi merupakan seorang pemimpin atau manajer. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya atas yang dipimpinnya oleh Allah Swt. Sebagaimana dalam hadits nabi Muhammad SAW, dari Abdullah ibnu Umar ra. yang diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim dan Turmudzi’ sebagai berikut;
حدثنا اسماعيل حد ثننى مالك عن عبد لله بن دينار عن عبد الله بن عمر رضى ا لله عنهما ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: الا كلكم راع وكلكم مسئول عن رائيته, فالاء مام الذى على الناس راع وهو مسئول عن رعيته, والرجل راع على اهله بيته وهو مسئول عن رعيته, والمراة راعية  على اهلى بيت زوجها وولده وهى مسعولة عنهم, وعبد الرجل راع على مال سيده وهومسئول عنه,  الا فكلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته.
( ابى عبد الله محمد ابن اسما عيل, متن البخارى, الجزء الرابع : ص: 332)
Artinya: Menceritakan kepada kami, Ismail menceritakan kepadaku Malik dari Abdullah Ibn Dinar dari Abdullah Ibn Umar r.a, bahwa sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda; Ingatlah setiap kamu semua adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang kepemimpinanmu, Sesungguhnya imam adalah pemimpin atas manusia dan dia akaqn di mintai pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya, laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia bertanggung jawab dalam kepemimpinannya. Seorang perempuan adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya dan dia akan di mintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang pembantu adalah pengurus (pengelola) dalam harta majikannya dan dia bertanggung jawab dalam pengelolaannya. Ingatlah kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan dimintai pertanggung jawabannya. (Abi Abdullah Muhammad Ibn Ismail al Bukhori r.a Juz IV, Hal: 233).

Dalam Islam mengajarkan betapa pentingnya sebuah landasan kepemimpinan yang adil dan bertanggung jawab, tidak main-main dalam memimpin karena pimpinan adalah sebuah amanah bagi orang banyak, jika pemimpinnya baik maka yang dipimpinnya adalah baik begitupun sebaliknya jika kepemimpinannya mengarahkan pada aktifitas yang melanggar kaidah-kaidah dalam kepemimpinan lebih-lebih kaidah agama maka konsekwensi logisnya pemimpin bertanggung jawab atas aktifitas tersebut baik pada dirinya, yang dipimpin dan lebih-lebih pertanggung jawaban terhadap Allah SWT.  Hal ini memberi pengertian bahwa seorang pemimpin haruslah memiliki kriteria yang handal dan memiliki jiwa kepemimpinan yang amanah.
Begitu pula penerapan manajemen,  Allah SWT sendiri dalam proses menciptakan alam semesta dilakukan melalui pentahapan atau proses, seperti dalam penciptaan langit dan bumi diadakan melalui enam tahap, walaupun sebenarnya Allah sangat sanggup menciptakannya sekaligus dengan hanya berkata “kun fa yakun”. Tapi itulah sebenarnya yang harus dimaknai oleh umat bahwa untuk melakukan sesuatu pekerjaan, pentahapan atau proses sangat penting, dan segalanya diserahkan kepada manusia untuk mengaturnya.
Apabila makna manajemen lebih difokuskan pada persoalan tanggung jawab, pembagian kerja dan efesiensi, maka perbuatan tersebut tak jauh berbeda dengan makna beberapa ayat Al-Qur’an, yakni antara lain :
1. Surat Al-Zalzalah ayat : 7-8
فمن يعمل مثقال ذ رة خيرا يرة, ومن يعمل مثقال ذ رة شرا يره.
Terjemahannya: Maka barang siapa yang mengerjakan sesuatu amal kebajikan seberat biji sawipun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan perbuatan jahat seberat biji sawipun niscaya dia akan melihat balasannya pula”. (QS. Al-Zalzalah,: 7-8).

1.   Surat Ath-Thur ayat: 21, yang menyinggung mengenai pembagian tugas sebagai berikut;
كل امرئ  بما كسب رهين.  
Terjemahannya :“Tiap-tiap manusia terikat oleh usaha masing-masing”. (QS. At-Thur; 21)

2.   Surat Al-Muddatsir ayat 38 yang berbicara tentang tanggung jawab sesuai dengan skill-nya masing-masing
كل نفس بما كسبت رهينة  
Terjemahannya :“Tiap-tiap manusia bertanggung jawab (terikat) atas yang dibuatnya”. (QS. Al-Mudatsir; 38)

3.   Surat AL-Furqan ayat: 67, yang menyinggung tentang pentingnya efisiensi dalam mengelola keuangan.
والذ ين اذا انفقوا لم يسرفوا ولم يقتروا  وكان بين ذالك قوا ما.   
Terjemahannya :
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan uangnya, mereka tiada berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, melainkan pertengahan antara keduannya”. (QS. Al-Furqon; 67).

Dalam pandangan Islam bahwa setiap perbuatan hendaknya kita harus berpikir dan merencanakan untuk hari depannya dengan matang. Sebagaimana dalam firman Allah SWT.
ياايهاالذ ين امنوااتقواالله والتنظرنفس ماقدمت لغد...(الحشر: 18)
Artinya: “hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat)....(QS. Al-hasyr; 18).

Begitupun dalam hal Organizing (pengorganisasian) Islam memandang bahwa pengetahuan yang luas dan kemampuan mempengaruhi serta mengelola pekerjaan, organisasi atau lembaga lain dengan baik adalah merupakan tanggung jawab yang harus dilakukan. Karena pengorganisasian berarti keseluruhan proses pengelompokkan orang-orang, alat-alat, tugas, tanggung jawab dan wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka pencapaian tujuan yang ditentukan. Dalam hal ini Rasulullah SAW. berpesan;

اذا وسد الامر الى غير اهله فانتظر الساعة.



Artinya; ” Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya”.


Dalam firman Allah SWT;

قال اجعلنى على خزائن الارض انى حفيظ عليم.....(يو سف: 55)

Artinya: “ Berkata Yusuf; Jadikanlah aku bendaharawan negara (mesir) sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan…(QS. Yusuf; 55).

Selain konsep religius diatas, mengkaji menagemen berarti tidak lepas dari fungsi managemen itu sendiri, karena jika mengetahuinya berarti arahnya tepat dan kegiatan managemen dapat di ketahui sampai pada sasaran dan tujuan sebuah organisasi atau lembaga dapat mudah tercapai. Fungsi managemen itu diantaranya (POAC) yakni; Planning (Perencanaan), Organizing (pengorganisasian), actuating (aktualisasi) dan Controlling (pengawasan).


Hakikat tujuan pendidikan islam adalah terwujudnya penguasaan ilmu agama islam sebagaimana yang tertuang dan terkandung dalam kitab-kitab produk ulama’ terdahulu serta tertanamnya perasaan agama yang mendalam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan fungsi pendidikan Islam adalah melestarikan dan mempertahankan nilai-nilai ilahi dan insani sebagaimana terkandung dalam kitab-kitab lama’ terdahuu dan ini melekat pada setiap komponen aktivitas pendidikan islam[5]
Fungsi Pendidikan Islam adalah sebagai : (1). Upaya pengembangan potensi peserta didik secara optimal serta interaksinya dengan tuntutan dan kebutuhan lingkungannya, tanpa mengabaikan traisi yang sudah mengakar di Masyarakat dan masih relevan untuk dilestarikan, dan (2). Menumbuhkembangkan nilai-nilai Ilahiyah dan insaniyah dalam konteks perkembangan iptek dan perubahan social yang ada.[6] Sedangkan tugas pendidikan islam terutama membantu agar manusia menjadi cakap dan selanjutnya mampu ikut bertanggungjawab terhadap pengembangan masyarakatnya yang dilandasi oleh tingginya kualitas Iman dan taqwa terhadap Allah SWT, karena itu, fungsi pendidikan islam adalah sebagai : (1), upaya menumbuhkembangkan kreatifitas peserta didik secara berkelanjutan, (2). Upaya memperkaya khasanah budaya manusia, memperkaya isi nilai-nlai insani dan Ilahi, dan (3). Upaya menyiapkan tenaga kerja yang produktif yang mampu mengantisipasi masa depan, dan atau mampu memberi corak struktur kerja masa epan yan dijiwai oleh spirit islam.[7]


Daftar Pustaka

·        Syafi’I Ma’arif , Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia. Bandung. Mizan., 1993
·        Pius A Partanto, M.Dahlan Al Barry. Kamus ilmiyah Populer. Surabaya. Arikola. 1994
·        Muhaimin, Arah Baru pengemangan Pendidikan Islam, Bandung. Nuansa Baru.2003
·        Muhaimin, Dr. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Surabaya. (PSAPM) bekerjasama dengan Pustaka pelajar. Cet. II. 2004



[1] A. Syafi’I Ma’arif , Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia. Bandung. Mizan., 1993, 151.
[2] Pius A Partanto, M.Dahlan Al Barry. Kamus ilmiyah Populer. Surabaya. Arikola. 1994
[3] Muhaimin, Dr. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Surabaya. (PSAPM) bekerjasama dengan Pustaka pelajar. Cet. II. 2004
[4] Muhaimin, Arah Baru pengemangan Pendidikan Islam, Bandung. Nuansa Baru.2003
[5] Muhaimin, Dr. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Surabaya. (PSAPM) bekerjasama dengan Pustaka pelajar. Cet. II. 2004
[6] Ibid, 135
[7] Ibid, 135

No comments:

Post a Comment

MAKALAH VARIABEL DAN HIPOTESA PENELITIAN

VARIABEL DAN HIPOTESA PENELITIAN PENDAHULUAN Ilmu pengetahuan pada hakekatnya muncul karena adanya rasa ingin tahu yang tinggi d...