Mimpi-mimpi yang dulu
sebatas khayalan, dengan hadirnya orang-orang hebat di dunia ini, berhasil
diubah menjadi hal nyata yang bisa kita sentuh dan kita rasakan manfaatnya.
Berkat orang-orang hebat itu pulalah, kita mengalami kemajuan yang sangat pesat
dalam berbagai area kehidupan.
Namun, apakah impian-impian itu hadir begitu saja dan langsung
menjadi nyata di tangan orang-orang hebat itu? Bisa saya katakan 100 persen
jawabannya adalah “tidak”. Bahkan, pada masanya, orang-orang tersebut sering
dicibir karena impiannya. Tak jarang, malah mendapat siksa dan dera hukuman
akibat impian yang diucapnya. Di tengah tatanan masyarakat pada masanya, sering
kali impian malah membuat seorang dicap tidak waras.
Misalnya impian menerbangkan orang hingga ke bulan. Atau, impian
menghadirkan komputer ke dalam setiap rumah. Semua itu dicap khayalan di siang
bolong serta predikat negatif lainnya. Namun mereka bukannya mundur. Tetapi
terus mencoba serta berkarya lagi. Hingga, pelan namun pasti, semua usaha itu
membuka banyak kemungkinan untuk mewujudkan cita-cita. Saat itulah, mereka
telah jauh maju ke depan meninggalkan orang-orang yang ragu-ragu dan memetik
keberhasilan.
Pepatah bijak dalam judul artikel ini membuka kesadaran kita
bahwa apa pun yang terjadi di dunia ini, pasti akan melewati tahap dan proses
kesulitan, ujian, tantangan, dan hambatan yang tentu tak mudah. Justru, dengan
semua itu, kita akan dikuatkan. Dengan berbagai ujian yang harus kita lewati,
kita justru sedang di-“keras”-kan menjadi manusia tangguh. Berikut sebuah kisah
untuk Anda.
Alkisah ada seorang anak muda yang bermimpi menjadi pengusaha
sukses. Ia mengatakan impiannya itu pada semua orang, namun tak ada yang
mengacuhkan. Karena tekadnya sangat kuat, si pemuda pun keluar dari desa
tersebut untuk merantau.
Suatu waktu, ia menemui seorang kakek yang kelaparan di jalan.
Karena kasihan, ia pun memberikan sebagian bekal yang dibawanya kepada kakek
itu. Sebagai ucapan terima kasih, si kakek memberikan sebuah batu kepada si
pemuda. Batu itu jika dijual pada orang yang tepat, bisa membuat impian si
pemuda jadi kenyataan. Namun, si pemuda juga harus menggandakan bekalnya dengan
bekerja lebih keras.
Waktu pun berlalu. Si pemuda terus bekerja keras untuk memenuhi
impiannya. Bekalnya pun makin bertambah dari hari ke hari. Upah bekerja serabutan
ia belikan makanan pokok seperti yang dinasihatkan kakek yang ditemuinya dulu.
Suatu kali, karena sudah merasa saat yang tepat, pemuda itu
menjual batunya kepada seorang pedagang di kota yang ditemuinya. Tetapi, hal
yang tak diduganya terjadi. Si pedagang malah mengatakan bahwa batu itu hanya
batu biasa. Dengan kecewa, ia pun beranjak pergi. Namun mata pedagang yang jeli
melihat si pemuda membawa makanan pokok. Katanya, ia mau membayar makanan itu
untuk mengobati kekecewaan si pemuda. Akhirnya, sebagian makanan pokok itu pun
beralih tangan.
Hal yang sama kemudian terus terjadi saat si pemuda hendak
menjual batunya. Bukannya batu yang berhasil dijual, tapi malah makanan
pokoknya yang laku. Uangnya terus diputar untuk membeli bahan makanan lain.
Tidak lama, pemuda ini menjadi pedagang besar.
Akhirnya, waktu mempertemukannya kembali dengan kakek yang
pernah ditolongnya. Rupanya, beliau seorang penguasa daerah. Katanya, “Batu
yang kuberikan padamu sebenarnya hanya untuk menguji, seberapa besar kekuatanmu
pada keyakinan dan amanah yang diberikan. Juga untuk mengajarkan bahwa
sesungguhnya untuk mencapai sukses, tidak ada yang mudah. Namun, keyakinan dan
kekuatan kitalah yang akan menuntun itu pada sukses sesungguhnya. Dan, inilah
sukses yang telah kamu perjuangkan. Aku telah menemukan calon pengganti orang
yang tekun, ulet, dan mau memperhatikan orang lain, yaitu dirimu!”
The Cup of Wisdom
Semua impian memang harus diperjuangkan. Dan, dalam perjuangan
itu tak ada yang mudah. Kita sendirilah yang bertanggung jawab untuk memudahkan
jalan itu. Mari, kita jadikan makna dari artikel ini sebagai bekal inspirasi,
untuk terus melaju, bekerja, dan berjuang maksimal demi mewujudkan semua
impian!
Salam sukses, luar biasa!

No comments:
Post a Comment