Thursday, October 19, 2017

Mengenal Sosok KH. Hasyim Asy’ari


Mengenal Sosok KH. Hasyim Asy’ari
1.      Riwayat Hidup
Beliau lahir pada tanggal 14 Pebruari 1871, bertepatan dengan tanggal 24 Dzulqa’dah 1287 H, di desa Gedang, 2 km sebelah utara kota Jombang, Jawa Timur. Nama kecilnya adalah Muhammad Hasyim. Ayahnya bernama Kiai Asy’ari yang berasal dari demak, Jawa Tengah, pengasuh dan pendiri pesantren Keras Jombang (sekarang al-Asy’ariah). Ibunya bernama Halimah. M. Hasyim Sejak kecil tinggal dan dibesarkan di lingkungan pesantren Gedang yang diasuh oleh kakeknya, Kiai Utsman. Dari garis keturunan ibunya.
Beliau adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara, yaitu, Nafi’ah, Ahmad Saleh, Radiah, Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi, dan Adnan. Sampai umur lima tahun, beliau dalam asuhan orang tua dan kakeknya di persantren Gedang. Di pesantren ini, para santri mengamalkan ajaran agama Islam dan belajar berbagai cabang ilmu agama Islam. Suasana in tidak diragukan lagi mempengaruhi karakter KH. Hasyim Asy’ari yang sederhana dan rajin belajar.
Seperti yang sudah sedikit disinggung, bahwa pada tahun 1876, ketika K.H. Hasyim Asy’ari berumur enam tahun, ayahnya mendirikan pondok pesantren Keras, sebelah selatan Jombang. Hal ini merupakan suatu pengalaman yang kemungkinan besar mempengaruhi beliau untuk kemudian mendirikan pesantren sendiri. Oleh karena itu jelaslah bahwa kehidupan masa kecilnya dilingkungan pesantran sangat berperan dalam pembentukan wataknya yang haus akan ilmu pengetahuan dan kepeduliannya pada pelaksanaan ajaran-ajaran agama dengan baik.
Semasa hidupnya, ia mendapat pendidikan dari ayahnya sendiri, terutama pendidikan dibidang ilmu al-Qur’an dan literature agama lainnya, setelah berusia 14 tahun, ia menjelajah untuk menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren terutama di pulau Jawa sendiri. Dan selam belajar di pesantren Siwalan, rupanya K.H. Hasyim Asy’ari adalah santri yang potensial dan sangat menguasai ilmu agama. Sehingga tidak lamu kemudian, tepatnya tahun 1303 H atau 1892 M, beliau dijadikan menantu oleh Kiai Ya’qub yang dijodohkan dengan putrinya Chadijah. Dan setelah menikah beliau bersama istrinya segera melakukan ibadah haji ke tanah suci Makkah. Sekembalinya dari tanah suci, mertua K.H. Hasyim Asy’ari menganjurkannya untuk menuntut ilmu ke Mekkah. Beliau wafat pada tanggal 7 Ramadlan 1366, bertepatan dengan tanggal 27 Juli 1947.

2.      Keterlibatan Dalam Dunia Pendidikan
Sepulang dari tanah suci, K.H. Hasyim langsung terjun di dunia pendidikan, ini tak lain karena kepentingan memperjuangkan agama yang sudah menjadi bagian hidupnya. Karena itu ia ingin mendirikan pesantren. Ketika tekad itu disampaikan kepada beberapa temannya dan pesantraean itu akan didirikan di daerah Teabuireng yang terletak jauh dari kota Jombang, teman-teman Hasyim tidak semuanya mendukung.
Mereka yang tidak setuju beralasan, bahwa daerah itu tidak cocok untuk didirikan pesantren bukan hanya jauh dari kota Jombang, tetapi merupakan daerah yang sangat tidak aman. Di sana bercokol masyarakat yang belum beragama dan adat istiadatnya bertentangan dengan perikemanusiaan, seperti merampok, berjudi, berzina dan berbagai kemaksiatan lainnya. Di sepanjang jalan menuju Tebuireng waktu itu  penuh dengan rumah-rumah prostitusi dan warung minuman keras.
Menghadapi kondisi seperti itu tekad Hasyim tidak surut, justru semakin mendorong semangatnya untuk  segera mendirikan pesantren di Tebuireng. Dia berprinsip,bahwa menyiarkan agama berarti memperbaiki masyarakat yang belum baik. Jika moral masyarakat sudah baik, maka apalagi yang perlu diperbaiki. Keputusan mendirikan pesantren baru ini dimaksudkan untuk menyampaikan ilmu yang telah diperoleh dan menggunakan pesantren sebagai sebuah agent social of change. Berdasarkan tujuannya ini dia ingin mengubah struktur dalam masyarakat. Dia memandang pesantren lebih dari sekedar tempat pendidikan ataupun lembaga moral dan religius, tetapi sebuah sarana penting untuk membuat perubahan yang berarti dalam masyarakat secara luas. Hal ini merupakan bukti dalam menghadapi kritik, dia menggunakan contoh kehidupan Nabi dan upaya-upaya yang dilakukan Walisongo dalam mengislamkan masyarakat Jawa, sebagai model yang bijak untuk meyakinkan para Kiai lain tentang perihal rencananya.

3.      Karya-karya KH. Hasyim Asy’ari
Sebagai seorang intelektual, KH. Hasyim Asy’ari menyumbangkan banyak hal berharga bagi pengembangan peradaban. Diantaranya adalh sejumlah literature  yang berhasil ditulisnya. Karya-karya tulis Kyai Hasyim yang terkenal adalah sebagai berikut:
a.     Adab al-Alim wa al-Muta’alim Fima yahtaj ilail al-Muta’alim fi Ahwal   Ta’alum wa ma yatawaqaf ‘alaih al-Muta’alim fi Maqamat Ta’limi. Kitab yang membahas tentang tatacara mencari ilmu dan prilaku guru dan murid.
b.    Ziyadat Ta’liqat, Radda fiha Mahzumat al-Syekh Abdullah bin Yasin al-Fasurani allati Bihujubiha ‘ala Ahl al-Jam’iyah Nahdlat al-‘Ulama. Kitab ini berisi tentang jawaban-jawaban KH. Hasyim Asy’ari terhadap pernyataan Syaikh Abdullah bin Yasin Pasuruan, yang dianggao beliau melemahkan warga Nahdlatul Ulama.
c.     al-Tanbihat al-Wajihat Liman Yashna’ al-Maulid al-Munkarat. Kitab ini berisi peringatan kepada para santri dan umat Islam terhadap hal-hal yang wajib bagi orang yang mengadakan peringatan maulid Nabi Muhammad dengan cara-cara yang mungkar.
d.    al-Risalat al-Jamiat, Sarh fiha Ahwaal al-Mauta wa Asyrath al-Sa’at ma’ bayan Mafhum al-Sunnah wa al-Bid’ah. Kitab ini berisi tentang penjelasan-penjelasan orang yang meninggal dunia dan tanda-tanda hari kiyamat serta penjelasan tentang bid’ah dan sunnah.
e.     Hasyiyah ‘ala Fath al-Rahman bi Sarh Risalat al-Wali Ruslan li Syekh al-Islam Zakariya al Anshari. Kitab ini merupakan penjelasan/ syarah atas risalah wali Ruslan karya Syaikh al-Islam Zakariya al-Anshari.
f.      al-Nur al-Mubbin fi Mahabbah Syayid al-Mursalin, Bain Fihi a’na al-Muhabbah li Rasul Allah Ma’wa yata’allaq Biha Man Ittiba’iha wa Ihya al-Sunnatih. Kitab ini berisi tentang makna cinta kepada Nabi Muhammad s.a.w dan hal-hal  yang mesti diikuti dalam rangka menghidupkan sunnahnya.
g.     al-Tibyan fi al-Nahy ‘an Muqathi’ah al-Ikhwan, bian fih Ahammiyat Shillat al-Rahim wa Dzarrur. Kitab ini menerangkan  tentang pentingnya menjalin hubungan sillaturahim antar sesama muslim dan bahaya memutuskan sillaturrahin tersebut.
h.    al-Durar al-Muntatsirah fi al-Masail al-Tis’a Asyarat, Sarh fiha  Masalat al-Thariqah wa al-Wilayah wama Yata’allaq wa Umar al-Muhimmah li Ahl al-Thariqah. Kitab ini membahas 19 masalah thariqat.
i.      al-Risalat al-Tauhidiyah, wahiya Risalah Shaghirah fi Bayan ‘Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Kitab ini merupakan risalah kecil tentang ahlussunnah wal jama’ah.
j.      al-Qalaid fi Bayan ma Yajib min al-Aqo’id. Kitab ini menerangkan tentang aqidah-aqidah yang wajib.
Mungkin masih banyak kitab-kitab lain yang ditulis oleh KH. Hasyim Asy’ari, tetapi belum berhasil diungkapkan, namun karya-karya di atas sudah cukup untuk mewakili karya-karya beliau.

Dari sekelumit penuturan perjalanan hidup seorang tokoh karismatik yang selalu menjadi idola sekaligus suri tauladan baik kita ini menjadi inspirasi bagi kita untuk senantiasa berdo’a semoga kita semua menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan serta menjadi penutup pintu-pintu keburukan sebagaimana yang digambarkan oleh inspirator agung, beliau Kanjeng Rosul Nabi Muhammad Saw. yang diriwayatkan melalui sahabat Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

Sesungguhnya diantara manusia ada yang menjadi kunci kebaikan dan penutup pintu kejelekan, Namun ada juga yang menjadi kunci kejelekan dan penutup pintu kebaikan. Maka beruntunglah bagi orang-orang yang Allah jadikan sebagai kunci kebaikan melalui kedua tangannya. Dan celakalah bagi orang-orang yang Allah jadikan sebagai kunci kejelekan melalui kedua tangannya”. (HR Ibnu Majah, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah)


No comments:

Post a Comment

MAKALAH VARIABEL DAN HIPOTESA PENELITIAN

VARIABEL DAN HIPOTESA PENELITIAN PENDAHULUAN Ilmu pengetahuan pada hakekatnya muncul karena adanya rasa ingin tahu yang tinggi d...